Judul : Eliana (serial anak-anak mamak)
Penulis : Tere-liye
Penerbit : Republika, Jakarta
Tebal : 519 Halaman
Cetakan : Januari 2011
Penulis : Tere-liye
Penerbit : Republika, Jakarta
Tebal : 519 Halaman
Cetakan : Januari 2011
Anak adalah anugerah terindah yang dikaruniakan tuhan kepada keluarga. Mereka juga yang kelak akan meneruskan perjuangan orangtuanya, menjaga nama baik keluarga dan mengharumkan bangsanya.
Tetapi terkadang orangtua salah ketika memanjakan anak mereka. Memberikan apa yang mereka inginkan tanpa disertai unsur mendidik bagaimana cara mendapatkanya, hal ini akan membiasakan mereka manja, tidak mandiri dan tidak mau berkerja Keras. Namun cara ini nyata masih banyak dipakai oleh orangtua, padahal itu adalah salah. Orangtua sebagai sahabat terdekat anak harus sekalian menjadi guru pertama bagi mereka. Keluarga harus mampu menanamkan pondasi yang kuat kepada anak.
Adalah mamak, seorang figur ibu yang sabar. Kesabaran dalam mengasuh anak-anaknya mampu melahirkan bidadari pemberani (Eliana). Sejak kecil Eliana selalu diajari bagaimana menjadi wanita yang tangguh, cerdas dan pemberani. Berani dalam menghadapi masalah, berani selama kita ada pada posisi yang benar. Kerja keras mamak dalam mewujudkan Eliana menjadi wanita pemberani didukung oleh Syahdan (bapak Eliana), Syahdan mampu menjadi partner yang baik dalam mendampingi istrinya mendidik anak-anak mereka. Keterbatasan ekonomi tidak pernah menghalangi untuk selalu ada disamping putra-putri mereka.
Eliana kau anak pemberani, Kalimat itu selalu dibisikan ditelinganya. Keberanian Eliana terlihat saat dia dan adiknya diajak pergi bapaknya ke kota kabupaten. Waktu itu syahdan dan petua desa yang lain akan mengikuti rapat tentang rencana penambangan pasir di desanya. Sebuah usaha yang dilakukan oleh kapitalis (bekerjasama dengan pihak pemerintah) untuk mengekploitasi desa terpencil yang kaya dengan sumberdaya alam. Rapat telah dilaksanakan beberapa kali namun belum mendapatkan izin, truk-truk besar pun sudah sering berdatangan sebagai bentuk intimidasi kepada orang-orang kampung.
Ketika rapat berjalan Eliana dan adiknya dititipkan di sebuah toko perhiasan milik seorang etnis tionghoa yang kenal baik dengan pak Syahdan. Setelah menunggu dalam waktu yang lama, Amelia (adik Eliana) memaksa Eliana untuk pergi menyusul pak sahdan ke tempat rapat berjalan. Setelah sampai di tempat, semua peserta kaget dengan kedatangan Eliana dan adiknya. Mereka kaget dengan celoteh lugu Amelia yang menagih janji bapaknya yang sebelumya berjanji akan membeli tas baru setelah rapat selesai.
Rasa kaget pun dialami pula oleh Eliana yang melihat bapaknya tengah diejek oleh seorang yang berbadan besar ihwal kehidupanya yang miskin, tetapi dia tetap bersikeras untuk menolak penambangan pasir didesanya dengan imbalan sebesar apapun. Lalu dengan lantan Eliana berteriak “JAGAN HINA BAPAKKU” kemudian dengan begitu gagahnya dia menjelaskan, meskipun keluarganya miskin tetapi dia dan keluarganya jauh lebih mulia dari para kapitalis dan pejabat-pejabat yang tak henti-hentinya membuat susah rakyat kecil. Anak usia 12 tahun berani berbicara dengan lantang tentang kebenaran, kalau bukan hasil dari didikan orang tua yang baik itu rasanya mustahil.
Masih banyak keberanian-keberanian yang di tunjukan oleh Eliana dalam menghadapi tantangan hidup didesanya, terlebih ketika para kapitalis itu memaksa melakukan penambangan pasir di desanya. Dia dengan tiga temanya yang tergabung dalam gank “EMPAT BUNTAL” mampu mengelabuhi ekploitasi pasir yang selamanya tidak berpihak pada rakyat kecil.
Tere-liye begitu piawai dalam membawakan cerita ini, penggambaran suasana yang begitu detail akan menarik pembaca terbawa dalam kisahnya dan seolah-olah mengalami sendiri. Penulis buku “Hafalan salat delisa” ini begitu akrab dengan dunia anak, sehingga dalam beberapa pesan yang dia sampaikan tidak ada unsur menggurui, semua alami. Pesan yang terkadung selain bagaimana menciptakan generasi-generasi tangguh juga bagaimana bersahabat dengan alam, yang selama ini telah hilang dari masyarakat kita. Selamat membaca.
AHMAD MUNJI
Peresensi masih berstatus mahasiswa
sumber : http://suar.okezone.com/read/2011/09/07/285/499635/285/belajar-mendidik-anak
Anda sedang membaca artikel tentang Belajar Mendidik Anak dan anda bisa menemukan artikel Belajar Mendidik Anak ini dengan url https://dwiwahyufebrianto.blogspot.com/2011/10/belajar-mendidik-anak.html, Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Belajar Mendidik Anak ini sangat bermanfaat bagi teman-teman Anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link postingan Belajar Mendidik Anak sebagai sumbernya.
0 komentar:
Posting Komentar