Judul Buku: My Mom Is My Hero: Persembahan Bagi Para Wanita yang Telah
Memberikan Hidup, Cinta dan Cucian Bersih
Editor: Susan Reynolds
Penerbit: Qanita
Tahun:1, 2011
Tebal:330, halaman
Harga: Rp49.000
Memberikan Hidup, Cinta dan Cucian Bersih
Editor: Susan Reynolds
Penerbit: Qanita
Tahun:1, 2011
Tebal:330, halaman
Harga: Rp49.000
Sebagian besar pekerjaan rumah tangga dari mulai mengurus suami, anak, dan keluarga di kerjakan oleh ibu kita. Peran ibu dalam keluarga sangat besar. Bahkan, bila ditimbang dengan tugas ayah jauh berbeda. Ibu kita telah mengandung, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan mendidik kita hingga tumbuh dewasa. Dialah wanita mulia yang senantiasa harus kita hormati dan di junjung tinggi.
Tanpa ibu diri kita bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Membentak dan melawan sama saja tidak boleh dilakukan oleh kita sebagai anaknya. Kalaupun tidak sependapat, kita diperbolehkan menyampaikan dengan cara yang halus dan penuh keta’dziman. Konon, Maling Kundang terkutuk menjadi batu lantaran durhaka terhadap ibunya. Sudahkah, kita menempatkan derajat ibu di posisi yang setinggi-tingginya?
Di tengah menurunnya degradasi moralitas generasi bangsa. Saat ini, banyak fenomena sosial yang menampilkan kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Seperti, membentak-bentak, melawan, dan menjadikan ibunya sebagai pelayan layaknya budak. Tentu membuat diri kita semakin prihatin. Buku bertajuk “My Mom Is My Hero: Persembahan Bagi Para Wanita yang Telah Memberikan Hidup, Cinta dan Cucian Bersih” hadir di hadapan pembaca.
Buku yang di tulis dari sekumpulan para penulis hebat dunia seperti Kathryn Godsiff, Charles W. Sasser, L. Cantor, Sophie Levina, Julie Anderson, Bonie Burn dll. Yang berusaha memotret perjuangan perempuan di dalam keluarga. Banyak kisah heroik pernah dialaminya. Bahkan, tak bisa di lupakan begitu saja.
Menurut para penulis buku ini, masa-masa mengandung dan melahirkan merupakan masa-masa yang penuh perjuangan. Yang di mana nyawa menjadi taruhannya. Ibu selalu berusaha menjaga kita dalam kandungannya dari segala ancaman dan tantangan. Setalah lahir di dunia ibu juga selalu mendidik dan mengarahkan diri kita agar jangan sampai tersesat.
Misalnya, L. Cantor penulis terkenal dunia awalnya merupakan penulis licik. Ia membuat karya tulisan dan mengerjakan tugas-tugasnya bukan karena kemampuannya, tetapi dari hasil plagiarisme (copy paste dari internet). “Kepiawainnya dalam mencari, menyalin, dan menyunting dari internet” membuat dirinya dijuluki sebagai siswa hebat oleh guru dan teman-temannya. (Hal 42) Walaupun, L. Cantor pandai menutupi perilaku buruknya “plagiarisme” kepada orang lain tetapi hal itu tidak, kepada ibunya. Akhirnya, kemudian L. Cantor menjadi sadar bahwa tindakannya itu salah dan berbahaya bagi harga dirinya.
Sepandai apapun diri kita dalam menyimpan sesuatu kepada ibu, lama atau tidak akan terendusnya. Ibu kita seolah tidak dapat dibohongi. Ia, merasakan apa yang kita rasakan. Teguran atau nasehat yang lembut membuat kita sebagai anak akan tunduk kepadanya. Karena memiliki ikatan emosional yang kuat membuat hati kita luluh. Pernahkah, ibu membiarkan suatu tindakan yang akan mengancam diri kita?
Di sisi yang lain, justru sebaliknya diri kita secara sadar maupun tidak sadar sering melawannya. Namun, ibu tetap sabar menghadapinya. Dalam kondisi apapun ibu juga selalu peduli terhadap nasib kita. Apapun akan diperjuangkannya demi kebahagiaan kita. Ibu tulus dalam mendidik, menyayangi, dan mencintai. Tidak ada niatan untuk meminta imbalan apapun kepada anaknya ketika kelak menjadi orang sukses.
Nah, disinilah penting bagi kita untuk merenungkan perjuangan perempuan khsusnya ibu baik sewaktu mengandung maupun melahirkan. Supaya diri kita tidak bersikap angkuh dihadapannya. Membaca buku ini, membantu membukakan mata batin kita untuk tidak bersikap kurang terpuji terhadap ibu kita. Ibu kita adalah wanita yang paling berjasa dalam dunia ini. Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk merendahkan derajat ibu. Merugi bila Anda melewatkan begitu saja buku ini. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari buku ini.
Presensi adalah Ahmad Faozan, alumnus Tebuireng kini tinggal di Yogyakarta
Anda sedang membaca artikel tentang Menguraikan Kebesaran Ibu dan anda bisa menemukan artikel Menguraikan Kebesaran Ibu ini dengan url https://dwiwahyufebrianto.blogspot.com/2011/08/menguraikan-kebesaran-ibu.html, Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Menguraikan Kebesaran Ibu ini sangat bermanfaat bagi teman-teman Anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link postingan Menguraikan Kebesaran Ibu sebagai sumbernya.
0 komentar:
Posting Komentar